Banyak pemimpin yang memiliki kemampuan metoda kepemimpinan ini. Karena
hal ini tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah formal. Oleh karena itu
seringkali kami dalam berbagai kesempatan mendorong institusi formal agar
memperhatikan ketrampilan seperti ini yang kami sebut dengan softskill atau
personal skill. Dalam salah satu artikel di economist.com ada sebuah ulasan
berjudul Can Leadership Be Taught. Jelas dalam artikel tersebut dibahas bahwa
kepemimpinan (dalam hal ini metoda kepemimpinan) dapat diajarkan sehingga
melengkapi mereka yang memiliki karakter kepemimpinan. Ada tiga hal penting
dalam metoda kepemimpinan, yaitu: Kepemimpinan yang efektif dimulai dengan visi
yang jelas.Visi ini merupakan sebuah daya atau kekuatan untuk melakukan
perubahan, yang mendorong terjadinya proses ledakan kreatifitas yang dahsyat
melalui integrasi maupun sinergi berbagai keahlian dari orang-orang yang ada
dalam organisasi tersebut. Bahkan dikatakan bahwa nothing motivates change more
powerfully than a clear vision.
Pemimpin sejati fokus pada hal-hal spiritual dibandingkan dengan sekedar
kesuksesan duniawi. Baginya kekayaan dan kemakmuran adalah untuk dapat memberi
dan beramal lebih banyak. Apapun yang dilakukan bukan untuk mendapat
penghargaan, tetapi untuk melayani sesamanya. Dan dia lebih mengutamakan
hubungan atau relasi yang penuh kasih dan penghargaan, dibandingkan dengan
status dan kekuasaan semata.Pemimpin sejati senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai aspek,
baik pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi, dan sebagainya.
Setiap hari senantiasi menselaraskan (recalibrating) dirinya terhadap
komitmen untuk melayani Tuhan dan sesama. Melalui solitude (keheningan), prayer
(doa) dan scripture (membaca Firman Tuhan).
Demikian kepemimpinan yang melayani menurut Ken Blanchard yang menurut
kami sangat relevan dengan situasi krisis kepemimpinan yang dialami oleh bangsa
Indonesia. Bahkan menurut Danah Zohar, penulis buku Spiritual Intelligence: SQ
the Ultimate Intelligence, salah satu tolok ukur kecerdasan spiritual adalah
kepemimpinan yang melayani (servant leadership).
Bahkan dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate
Luderman, menunjukkan bahwa pemimpin-pemimpin yang berhasil membawa
perusahaannya ke puncak kesuksesan biasanya adalah pemimpin yang memiliki SQ
yang tinggi. Mereka biasanya adalah orang-orang yang memiliki integritas,
terbuka, mampu menerima kritik, rendah hati, mampu memahami orang lain dengan
baik, terinspirasi oleh visi, mengenal dirinya sendiri dengan baik, memiliki
spiritualitas yang tinggi, dan selalu mengupayakan yang terbaik bagi diri
mereka sendiri maupun bagi orang lain.
Visi yang jelas dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan
dalam organisasi. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner,
yaitu memiliki visi yang jelas kemana organisasinya akan menuju. Kepemimpinan
secara sederhana adalah proses untuk membawa orang-orang atau organisasi yang
dipimpinnya menuju suatu tujuan (goal) yang jelas. Tanpa visi, kepemimpinan
tidak ada artinya sama sekali. Visi inilah yang mendorong sebuah organisasi
untuk senantiasa tumbuh dan belajar, serta berkembang dalam mempertahankan
survivalnya sehingga bisa bertahan sampai beberapa generasi.
Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang dapat mengendalikan ego dan
kepentingan pribadinya melebihi kepentingan publik atau mereka yang
dipimpinnya. Mengendalikan ego berarti dapat mengendalikan diri ketika tekanan
maupun tantangan yang dihadapi menjadi begitu berat. Seorang pemimpin sejati
selalu dalam keadaan tenang, penuh pengendalian diri dan tidak mudah emosi.
Kepala Yang Melayani (Metoda Kepemimpinan) Seorang pemimpin sejati tidak
cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tetapi juga harus memiliki
serangkaian metoda kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif.
Banyak sekali pemimpin memiliki kualitas dari aspek yang pertama, yaitu
karakter dan integritas seorang pemimpin, tetapi ketika menjadi pemimpin
formal, justru tidak efektif sama sekali karena tidak memiliki metoda
kepemimpinan yang baik.
Contoh adalah para pemimpin karismatik ataupun pemimpin yang menjadi
simbol perjuangan rakyat, seperti Corazon Aquino, Nelson Mandela, Abdurrahman
Wahid, bahkan mungkin Mahatma Gandhi, dan masih banyak lagi menjadi pemimpin
yang tidak efektif ketika menjabat secara formal menjadi presiden. Hal ini
karena mereka tidak memiliki metoda kepemimpinan yang diperlukan untuk mengelola
mereka yang dipimpinnya.
Ada dua aspek mengenai visi, yaitu visionary role dan implementation
role. Artinya seorang pemimpin tidak hanya dapat membangun atau menciptakan
visi bagi organisasinya tetapi memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan
visi tersebut ke dalam suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang diperlukan
untuk mencapai visi itu.
Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang yang sangat responsive.
Artinya dia selalu tanggap terhadap setiap persoalan, kebutuhan, harapan dan
impian dari mereka yang dipimpinnya. Selain itu selalu aktif dan proaktif dalam
mencari solusi dari setiap permasalahan ataupun tantangan yang dihadapi
organisasinya.
Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang pelatih atau pendamping
bagi orang-orang yang dipimpinnya (performance coach). Artinya dia memiliki
kemampuan untuk menginspirasi, mendorong dan memampukan anak buahnya dalam
menyusun perencanaan (termasuk rencana kegiatan, target atau sasaran, rencana
kebutuhan sumber daya, dan sebagainya), melakukan kegiatan sehari-hari
(monitoring dan pengendalian), dan mengevaluasi kinerja dari anak buahnya.
Tangan Yang Melayani (Perilaku Kepemimpinan) Pemimpin sejati bukan
sekedar memperlihatkan karakter dan integritas, serta memiliki kemampuan dalam
metoda kepemimpinan, tetapi dia harus menunjukkan perilaku maupun kebiasaan
seorang pemimpin. Dalam buku Ken Blanchard tersebut disebutkan ada empat
perilaku seorang pemimpin, yaitu: Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka
yang dipimpinnya, tetapi sungguh-sungguh memiliki kerinduan senantiasa untuk
memuaskan Tuhan. Artinya dia hidup dalam perilaku yang sejalan dengan Firman
Tuhan. Dia memiliki misi untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap apa
yang dipikirkan, dikatakan dan diperbuatnya.
Apakah arti kepemimpinan? Menurut sejarah, masa “kepemimpinan” muncul
pada abad 18. Ada beberapa pengertian kepemimpinan, antara lain:
- Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
- Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).
- Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46)
- Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah kelompok atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya.
- Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).
Banyak definisi kepemimpinan yang menggambarkan asumsi bahwa kepemimpinan dihubungkan dengan proses
mempengaruhi orang baik individu maupun masyarakat. Dalam kasus ini, dengan
sengaja mempengaruhi dari orang ke orang lain dalam susunan aktivitasnya dan
hubungan dalam kelompok atau organisasi. John C. Maxwell mengatakan bahwa inti
kepemimpinan adalah mempengaruhi atau mendapatkan pengikut.
Menurut James A.F Stonen, tugas utama seorang pemimpin adalah:
- Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja dengan orang lain, salah satu dengan atasannya, staf, teman sekerja atau atasan lain dalam organisasi sebaik orang diluar organisasi.
- Seorang pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun tugas menjalankan tugas, mengadakan evaluasi, untuk mencapai outcome yang terbaik. Pemimpin bertanggung jawab untuk kesuksesan stafnya tanpa kegagalan
- Proses kepemimpinan dibatasi sumber, jadi pemimpin harus dapat menyusun tugas dengan mendahulukan prioritas. Dalam upaya pencapaian tujuan pemimpin harus dapat mendelegasikan tugas-tugasnya kepada staf. Kemudian pemimpin harus dapat mengatur waktu secara efektif,dan menyelesaikan masalah secara efektif.
- Seorang pemimpin harus menjadi seorang pemikir yang analitis dan konseptual. Selanjutnya dapat mengidentifikasi masalah dengan akurat. Pemimpin harus dapat menguraikan seluruh pekerjaan menjadi lebih jelas dan kaitannya dengan pekerjaan lain.
- Konflik selalu terjadi pada setiap tim dan organisasi. Oleh karena itu, pemimpin harus dapat menjadi seorang mediator (penengah)
- Seorang pemimpin harus mampu mengajak dan melakukan kompromi. Sebagai seorang diplomat, seorang pemimpin harus dapat mewakili tim atau organisasinya.
- Seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah.
Menurut Henry Mintzberg, Peran Pemimpin adalah :
- Peran hubungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya sebagai pemimpin yang dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor konsultasi.
- Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru bicara.
- Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha, penanganan gangguan, sumber alokasi, dan negosiator.
Prinsip, sebagai paradigma terdiri dari beberapa ide utama berdasarkan
motivasi pribadi dan sikap serta mempunyai pengaruh yang kuat untuk membangun
dirinya atau organisasi. Menurut Stephen R. Covey (1997), prinsip adalah bagian
dari suatu kondisi, realisasi dan konsekuensi. Mungkin prinsip menciptakan
kepercayaan dan berjalan sebagai sebuah kompas/petunjuk yang tidak dapat
dirubah. Prinsip merupakan suatu pusat atau sumber utama sistem pendukung
kehidupan yang ditampilkan dengan 4 dimensi seperti; keselamatan, bimbingan,
sikap yang bijaksana, dan kekuatan.
Hati Yang Melayani (Karakter Kepemimpinan) Kepemimpinan yang melayani
dimulai dari dalam diri kita. Kepemimpinan menuntut suatu transformasi dari
dalam hati dan perubahan karakter. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam dan
kemudian bergerak ke luar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Disinilah
pentingnya karakter dan integritas seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin
sejati dan diterima oleh rakyat yang dipimpinnya. Kembali betapa banyak kita
saksikan para pemimpin yang mengaku wakil rakyat ataupun pejabat publik, justru
tidak memiliki integritas sama sekali, karena apa yang diucapkan dan dijanjikan
ketika kampanye dalam Pemilu tidak sama dengan yang dilakukan ketika sudah
duduk nyaman di kursinya.
Paling tidak menurut Ken Blanchard dan kawan-kawan, ada sejumlah
ciri-ciri dan nilai yang muncul dari seorang pemimpin yang memiliki hati yang
melayani, yaitu: Tujuan paling utama seorang pemimpin adalah melayani
kepentingan mereka yang dipimpinnya.
Orientasinya adalah bukan untuk kepentingan diri pribadi maupun
golongannya tetapi justru kepentingan publik yang dipimpinnya. Entah hal ini
sebuah impian yang muluk atau memang kita tidak memiliki pemimpin seperti ini,
yang jelas pemimpin yang mengutamakan kepentingan publik amat jarang kita temui
di republik ini. Seorang pemimpin sejati justru memiliki kerinduan untuk
membangun dan mengembangkan mereka yang dipimpinnya sehingga tumbuh banyak
pemimpin dalam kelompoknya.
Hal ini sejalan dengan buku yang ditulis oleh John Maxwell berjudul
Developing the Leaders Around You. Keberhasilan seorang pemimpin sangat
tergantung dari kemampuannya untuk membangun orang-orang di sekitarnya, karena
keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya
manusia dalam organisasi tersebut. Jika sebuah organisasi atau masyarakat
mempunyai banyak anggota dengan kualitas pemimpin, organisasi atau bangsa
tersebut akan berkembang dan menjadi kuat.
Pemimpin yang melayani memiliki kasih dan perhatian kepada mereka yang
dipimpinnya. Kasih itu mewujud dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan,
kepentingan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya.
Ciri keempat seorang pemimpin yang
memiliki hati yang melayani adalah akuntabilitas (accountable). Istilah
akuntabilitas adalah berarti penuh tanggung jawab dan dapat diandalkan. Artinya
seluruh perkataan, pikiran dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada
publik atau kepada setiap anggota organisasinya.Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar. Mau mendengar
setiap kebutuhan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar